Selasa, 26 November 2013

Nilai fisik puisi Hampa karya Chairil anwar

Nilai fisik puisi Hampa karya Chairil Anwar

Chairil anwar sastrawan yang lahir di Medan, Sumatera Utara pada 26 juli 1922. Dijuluki sebagai “Si Binatang Jalang” dari karya yang berjudul aku, adalah penyair terkemuka Indonesia. Beliau disiasati telah menciptakan banyak karya termasuk puisi. Dinobatkan sebagai pelopor angkatan ’45 sekaligus pelpor puisi modern Indonesia. Diantara puisi-puisinya yang paling menarik menurut penulis adalah puisi yang berjudul Hampa.

Puisi Hampa memiliki 1 bait dan 11 baris dengan tipografi yang simple. Di setiap baris memiliki akhiran yang tidak tentu contohnya:
     Sepi.
     Tambah ini menanti jadi mencekik
     Memberat-mencekung punda
     Sampai binasa segala. Belum apa-apa
     Udara bertuba. Setan bertempik
     Ini sepi terus ada. Dan menanti

Puisi Hampa menggunak rata kiri terdapat pula tanda baca-tanda baca yang tak lazim pada tempatnya, contoh pada baris ke-6 puisi Hampa yaitu:
  Segala menanti. Menanti. Menanti.
Mungkin bila dilihat dan diamati unsur ketata bahasaannya akan terlihat salah, namun dalam puis ini Chairil Anwar memberikan makna yang jelas tentang ketakutannya akan kesendirian, hal ini diperjelas dengan pemenggalan kata yang di pisahkan oleh tanda baca titik (.).

Jadi, puisi-puisi Chairil Anwar selain memiliki makna yang luas dan tinggi, puisi-puisi beliau pun memilik struktur fisik yang unik untuk dianalisis karena unsur fisik puisi yang disajikan oleh Chairil Anwar memilik makna tersendiri dalam mengekspresikan warna atau corak penulisnya.

Puisi Hampa karya Chairil anwar

HAMPA
Karya: Chairil anwar

kepada sri
Sepi di luar. Sepi menekan mendesak.
Lurus kaku pohonan. Tak bergerak
Sampai ke puncak. Sepi memagut,
Tak satu kuasa melepas-renggut
Segala menanti. Menanti. Menanti.
Sepi.
Tambah ini menanti jadi mencekik
Memberat-mencekung punda
Sampai binasa segala. Belum apa-apa
Udara bertuba. Setan bertempik
Ini sepi terus ada. Dan menanti